Lumpur yang Menyisakan Cahaya .

- Penulis

Senin, 8 Desember 2025 - 06:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lumpur yang Menyisakan Cahaya .

Cerpen 

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Medan , 08/12/2025 , / kompas1.com

 

Hujan turun tanpa jeda sejak subuh di sebuah desa kecil di Aceh. Langit kelabu seperti diselimuti kecemasan. Di kaki bukit, rumah-rumah berdiri rapat, sebagian masih dari papan, sebagian lagi sudah setengah permanen. Tak ada yang menyangka sore itu, suara gemuruh akan datang lebih cepat daripada doa yang sempat terucap.
“Air! Dari atas gunung!” teriak seorang pemuda yang baru pulang dari kebun.

Dalam hitungan detik, air bercampur lumpur meluncur deras. Warga berhamburan. Sebuah rumah di dekat aliran kecil mulai miring, dasar tanahnya terkikis, hampir roboh. Dari dalam rumah itu, terdengar suara seorang nenek yang memanggil lemah.

“Anak… tolong…!”

Rafi, pemuda itu, tak berpikir panjang. Ia berlari melawan arus lumpur, tubuhnya diguyur hujan dan tanah. Di antara gemuruh air, ia berteriak memanggil warga lain.

“Bantu! Ada orang di dalam!”

Beberapa laki-laki segera datang. Mereka membentuk barisan, saling berpegangan agar tidak hanyut. Rafi menerobos masuk ke rumah yang hampir tertimbun. Dengan senter kecil di tangan, ia menemukan si nenek duduk di sudut ruangan, tubuhnya bergetar.

“Mak, pegang tangan saya. Kita keluar,” katanya lembut.

Di tengah suara gemuruh yang menakutkan, nenek itu masih sempat berbisik, “Allah pasti tolong orang yang menolong. Kamu jangan lepaskan tangan Mak, nak.”

Dengan hati-hati, mereka menarik nenek itu keluar. Saat kaki mereka menginjak tanah yang lebih stabil, rumah itu akhirnya roboh perlahan, terseret lumpur. Semua yang melihat hanya bisa menarik napas panjang… sekaligus bersyukur.

Setelah keadaan sedikit mereda, warga berkumpul di mushala kecil desa. Listrik padam, hanya cahaya lampu minyak yang menyala redup. Mereka memeriksa siapa yang selamat, siapa yang belum ditemukan, dan siapa yang kehilangan rumah.

Baca Juga:  Relawan Bonar Sumatera Utara resmi bertransformasi menjadi Organisasi masyarakat Bonar Indonesia .

Pak Imam menenangkan suara-suara tangis yang pecah pelan.

“Saudaraku, musibah ini berat. Tapi Allah tidak menurunkan cobaan kecuali dengan hikmah. Lihatlah, hari ini kita selamat karena saling membantu. Inilah yang diajarkan agama: ‘Tolong-menolonglah dalam kebaikan.’ Kalau kita saling tinggalkan, mungkin lebih banyak yang hilang.”

Orang-orang saling menatap. Ada yang memeluk keluarganya, ada yang menundukkan kepala, menghapus air mata.

Nenek yang tadi diselamatkan Rafi duduk di dekat tiang mushala, memegang tangan pemuda itu erat-erat.

“Allah kirimkan Mak penolong hari ini,” katanya pelan. “Bukan karena kamu kuat, tapi karena hatimu tergerak.”

Rafi menunduk. “Saya cuma melakukan apa yang semestinya, Mak.”

Di luar mushala, hujan mulai reda. Lumpur masih menggenang, bau tanah bercampur pohon-pohon yang tumbang. Desa itu porak-poranda. Namun di tengah kehancuran, ada sesuatu yang justru menguat: kebersamaan.

Warga memasak bersama, menyalakan api, membagikan makanan seadanya. Yang masih punya rumah membuka pintu bagi yang kehilangan tempat tinggal. Yang muda membantu membersihkan sisa-sisa lumpur, sementara yang tua membaca doa, memohon keteguhan hati.

Di tengah malam yang gelap, Pak Imam kembali berucap, “Bencana kadang mengambil banyak. Tapi ia juga mengingatkan kita pada apa yang tidak bisa lumpur bawa pergi iman, dukungan, dan rasa kemanusiaan.”

Rafi memandang langit yang mulai terang sedikit, walau awannya masih tebal. Di antara puing dan air yang surut, ia merasa ada cahaya yang muncul kembali bukan cahaya dari matahari, tapi cahaya dari hati orang-orang yang tak menyerah.

Dan malam itu, Aceh yang basah lumpur justru terasa lebih hangat dari sebelumnya. ( Red / Halimah Tusahdiah )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hukum tumpul ke kiri , tajam ke kanan . Kasus saling lapor di Nias menjadi Sorotan publik .
Ketua Umum DePA-RI Minta Menteri Haji Tidak Ceroboh Soal War Tiket Haji
Fitnahan tipu gelap terhadap GS ; Berita tidak mendasar dan melanggar kode etik
DPO Leo Sembiring dkk Belum Tertangkap, Penanganan Dibandingkan dengan Kasus Roberto
Diduga Libatkan Anak di Bawah Umur untuk Operasi Penjebakan, Kapolri, Irwasum dan Kapoldasu Diminta Segera Ambil Tindakan
DPW A–PPI Sumut menyoroti Harga cabai anjlok menyentuh Rp.8.000 ribu . Ratusan petani Deli Serdang Rugi besar .
JFC Season 2: Indonesia vs Malaysia Akan Memperebutkan Sabuk Bapak Gubernur Sumut, Hadirilah dan Dukung Bareng!
DPW A-PPI Sumut sambut lebaran, gelar acara buka puasa bersama dan bagikan parcel untuk anggota .
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 10:26 WIB

Hukum tumpul ke kiri , tajam ke kanan . Kasus saling lapor di Nias menjadi Sorotan publik .

Kamis, 16 April 2026 - 00:20 WIB

Ketua Umum DePA-RI Minta Menteri Haji Tidak Ceroboh Soal War Tiket Haji

Minggu, 12 April 2026 - 23:06 WIB

Fitnahan tipu gelap terhadap GS ; Berita tidak mendasar dan melanggar kode etik

Selasa, 7 April 2026 - 02:26 WIB

DPO Leo Sembiring dkk Belum Tertangkap, Penanganan Dibandingkan dengan Kasus Roberto

Sabtu, 4 April 2026 - 09:30 WIB

Diduga Libatkan Anak di Bawah Umur untuk Operasi Penjebakan, Kapolri, Irwasum dan Kapoldasu Diminta Segera Ambil Tindakan

Berita Terbaru